Selasa, 23 September 2008

TEORI KOMUNIKASI

Teori disonansi Kognitif (EM. Griffin)

1. BACKGROUND

Tokoh

Leon Festinger dilahirkan di Kota Besar New York pada tahun 1919. Dia tertarik dalam bidang psikologi, dia bersekolah City College of New York dan setelah itu dia meneruskan Ph.D di Universitas Iowa pada tahun 1942. Dia mengajar di sejumlah universitas sebelum pergi ke Stanford University pada tahun 1955. Tahun 1968 ia pergi ke Sekolah Yang baru untuk mengerjakan Sosial Riset di Kota besar New York Kota, dimana ia tinggal sampai kematian nya di tahun 1990.
Walaupun Festinger berperan penting dalam penemuan sejumlah teori besar dan konsep pada bidang psikologi sosial, tapi tidak ada yang mempunyai dampak lebih besar dibanding gagasan di dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1957.
Dalam Teori Disonansi kognitif, Festinger memandang orang-orang sebagai individu yang berfikir, dimana harus mempunyai pertimbangan di dalam pemikiran mereka seperti halnya tindakan mereka. Gagasan untuk pertimbangan adalah kunci kepada teori disonansi kognitifnya. Banyak riset yang diadakan di psikologi sosial untuk menjawab sebagian dari pertanyaan bahwa disonansi kognitif telah muncul kembali.

Konsep Pembentuk Inti dari Teori Disonansi kognitif
Fistinger menamakan perasaan yang tidak seimbang sebagai disonansi kognitif. Hal ini merupakan perasaan yang dimiliki orang, ketika mereka menemukan diri mereka sendiri, melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui atau memepunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka pegang.
Berdasarkan Roger Brown, dasar dari teori ini mengikuti sebuha prinsip yang cukup sederhana: “ Keadaan disonasi kognitif dikatakan sebagai keadaan ketidaknyamanan psikologis atau ketegangan yang memotivasi usaha-usaha untuk mencapai konsonansi. Disonasi adalah sebutan untuk ketidakseimbangan dan konsonansi adalah sebutan untuk keseimbangan. Hubungan konsonan adalah dua element yang berada pada posisi seimbang satu sama lain, hubungan disonan adalah dua element dalam ketidakseimbangan dengan yang lainnya. Sedangkan hubungan tidak relevan adalah ketika ada element-element tidak mengimplikasikan apa pun mengenai satu sama lain.


2. DEFINISI

Teori disonansi Kognitif adalah penjelasan mengenai bagaimana keyakinan dan perilaku merubah sikap. Teori ini berfokus pada efek inkonsistensi yang ada diantara kognisi-kognisi.


3. PEMBAHASAN

Asumsi dasar dari teori disonansi kognitif

  • Manusia memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan sikap dan perilakunya.
  • Menyatakan bahwa orang tidak akan menikmati inkonsistensi dalam pikiran dan keyakinan mereka.
  • Disonansi diciptakan oleh inkonsistensi psikologis.
  • Merujuk pada fakta bahwa kogtnisi-kognisi harus tidak konsisten secara psikologis satu dengan lainnya untuk menimbulkan disonansi kognitif.
  • Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang unutk melakukan tindakan-tindakan dengan dampak yang dapat diukur.
  • Ketika orang mengalami inkonsistensi psikologis disonansi yang tercipta menimbulkan perasaan tidak suka.
  • Disonansi akan mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usaha untuk mengurangi disonansi.
  • Rangsangan yang diciptakan oleh disonansi akan memotivasi orang untuk menghindari situasi yang menciptakan inkonsistensi dan berusaha mencari situasi yang mengembalikan konsistensi
Konsep dan Proses Disonansi Kognitif

Tingkat disonansi merupakan jumlah kuantitatif dari perasaan tidak nyaman yang dirasakan. Ada 3 faktor yang dapat mempengaruhi tingkat disonansi yang dirasakan seseorang.

  • Tingkat kepentingan: seberapa signifikan suatu masalah berpengaruh pada tingkat disonansi yang dirasakan.
  • Rasio disonansi: jumlah kognisi konsonan berbanding dengan kognisi yang disonan.
  • Rasionalitas: alasan yang dikemukakan untuk menjelaskan inkonsistensi.
  • Mengatasi disonansi.
Disonansi dapat dikurangi melalui perubahan perilaku maupun sikap, antara lain mengurangi pentingnya disonan kita, menambhakan keyakinan yang konsonan, menghapuskan disonansi dengan cara tertentu.
Disonansi kognitif dan persepsi

Secara spesifik TDK berkaitan dengan:

  • Terpaan selektif: Dengan mencari informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
  • Perhatian selektif: Dengan memberikan perhatian pada informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
  • Interpretasi selektif: Menginterpretasikan informasi yang ambigu sehingga informasi ini menjadi konsisten dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
  • Retensi selektif: mengingat informasi yang konsosnan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
  • Justifikasi minimal.Menawarkan jumlah insentif paling kecil yang dibutuhkan untuk mendapatkan persetujuan.
Berpendapat bahwa jika seseorang untuk memperoleh perubahan pribadi selain persetujuan public cara terbaik untuk melakukannya ini adalah menawarkan cukup penghargaan atau hukuman untuk memperoleh persetujuan.



4 .SIMPULAN

1. Kelebihan

  • Menawarkan pandangan baru ke dalam hubungan antara sikap, kognisi, emosi, dan perilaku
  • Menyarankan suatu metode untuk mengubah sikap dan persuasi
  • Teori Festinger tidak hanya merupakan salah satu teori konsistensi yang amat penting, tetapi juga merupakan salah satu teori yang signifikan dalam psikologi social.
  • Teori disonansi kognitif memberikan kontribusi yang sangat besar pada pemahaman kita akan kognisi dan hubungan dengan perilaku .
  • Konsep disonansi merupakan konsep yang kuat dalam literature penelitian, menjadi sumber informasi dalam psikologi, psikologi kognitif, komunikasi, dan area lainnya yang berhubungan.
2. Kekurangan

  • Peneliti menekankan, karenaTeori disonasi kognitif menyatakan bahwa disonasi akan mendorong orang untuk bertindak, ketika orang tidak bertindak, maka pengkritik teori ini dapat mengatakan bahwa desonansi yang ada tidak cukup kuat, daripada menyimpulkan bahwa teori ini salah.
  • Disonansi bukan merupakan konsep paling penting untuk menjelaskan perubahan sikap.
  • Teori disonansi kognitif tidak cukup jelas mengenai kondisi-kondisi di mana disonansi menuntun pada perubahan sikap.